Monday, November 1, 2010

Why don’t I have wings to fly with, like the swallow so proud and free? (complaining)

by Nimaz Yulianti on Friday, 30 April 2010 at 10:03

akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui,
itu kata Gie.
lampu-lampu berkelipan di Jogjakarta yang sepi,
bukan kota kita berdua,
itu kataku.
yang tua dan terlena dalam mimpinya.
kau dan aku berbicara.
tanpa kata, tanpa suara,
itu kata Gie.
ketika malam yang basah menyelimuti Jogjakarta yang bukan punya kita,
itu kataku.
apakah kau masih akan berkata,
kudengar derap jantungmu.
kita begitu berbeda dalam semua,
itu kata Gie.
kecuali dalam Tuhan?
itu kataku.
haripun menjadi malam,
kulihat semuanya menjadi muram.
wajah wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
seperti kabut pagi itu,
itu kata Gie.
apa kataku? aku pergi sendiri.
diantara bapak yang khawatir,
bilang padanya aku tak apa.
dan ibu yang terus berdoa,
bilang padanya aku masih ada.
aku pergi di pagi itu,
kuharap tak ada seorang pun yang tahu
tahu kebenaran yang sebenarnya ku cari,
bukan turun dari manusia.
mereka tak membantu.
mereka bukan kebenaran.
kebenaran hanya ada pada Tuhan.
kepercayaan takpantas untuk manusia,
kebaikan takpantas untuk manusia.,
pertolongan tak pantas untuk manusia, -dari manusia.
manusia bukan malaikkat,
manusia bukan dewa,
manusia bukan setan,
manusia mungkin iblis, bukan.
dunia seperti ini orang baik tak akan menang.
aku tak pernah percaya cerita tentang kebaikan,
sekalipun itu datang dari para biarawan.
aku tak percaya biarawan.
Jogjakarta bukan kota kita berdua.
disini ku bisa bicara dengan jalanan dan lampu-lampu lirih.
sekalipun rel rel yang berderit bisa diajak bicara.
aku orang tak tahu yang bertanya
kenapa kebenaran tidak diturunkan pada manusia?
kenapa semua manusia tidak sama,
seperti mereka yang bisa berbangga.
kota ini yang bukan punya kita.
aku masih bercerita
perlahan, mungkin saja aku bisa kembali,
besok senja, jika belum dipenggal.

No comments:

Post a Comment