Gue bukan orang yang mudah bersosialisasi atau mungkin lebih tepatnya enggan bersosialisasi. Karena bagaimanapun gue selalu menganggap bahwa orang orang disekeliling gue (lingkungan gue tentunya), adalah orang orang yang tidak
pernah benar. Kebenaran hanya ada di langit.
Sabtu 8 Mei 2010, gue diundang ke sebuah rapat organisasi pemuda yang sudah gak pernah gue datangi lagi, dengan berat hati gue berangkat demi alasan administrasi gue yang belum beres. Sejujurnya organisasi ini gak ada gunanya kalau boleh gue bilang, setiap orang orang di dalamnya hanya mengadakan acara berkumpul rutin, makan, merokok dan sekedar mengadakan acara arisan. Hah, arisan?
Oke, gue gak bakal bahas soal organisasi gak jelas ini. Yang gue pikir adalah mereka mulai bicara tentang proposal pengajuan dana dan politik tai kucing.
Seperti yang sudah gue bilang tadi kalau gue gak pernah berangkat, dan disitu seorang lelaki yang sepertinya gue anggap sedikit bijaksana karena latar belakang pendidikannya yang tak bisa dipandang sebelah mata mulai berbicara.
“Sehubungan dengan agenda demokrasi di daerah kita pada tanggal 9 Mei. Seperti apa yang telah kita bicarakan bulan lalu perihal organisasi kita yang mengajukan proposal dana kepada salah satu pasangan calon bupati , dimana atas kesepakatan bulan lalu jika dana tersebut diberikan maka kita akan memilih mereka dalam pemilihan kepala daerah besok. Dana yang kita ajukan sebesar Rp 2.000.0000,00 tadi sore sudah cair namun tidak sesuai dengan yang kita harapkan yaitu hanya sebesar Rp 500.000,00. Namun karena dana tersebut sudah kita dapatkan, harap dalam pemilihan bupati besok pagi saudara sekalian memilih nomor X yaitu pasangan Y dan Z, demi kemajuan daerah dan demi kemajuan organisasi pemuda kita.”
Hah, dimana harga diri kalian saudara saudara? Politik adalah hal kotor menurut gue, tapi jika sudah tak dapat dihindari maka terjunlah. Disini gue belum bicara atas nama mahasiswa yang dikenal vocal (gue belum sah menjadi mahasiswa di suatu universitas), gue hanya berbicara sebagai orang yang sok tahu tentang dunia politik.
Pernah suatu kali gue mengajukan kritik, tapi apa tanggapan mereka yang memang lebih dewasa dari gue?
Gue disuruh diam, jangan sok berbicara. Hati hati kalau berbicara atau akan dituntut jika MEREKA-YANG-BERKUASA mendengar.
Hey, siapa yang seharusnya berhati-hati? Lebih baik gue mati atas suatu kebenaran.
Kalau organisasi masyarakat sudah begini apa yang bisa diharapkan atas negeri kolam susu, apalagi ini organisasi pemuda (pemuda goblok). Bahkan politik seperti itu sudah pernah masuk sekolah. Anak anak saja sudah diajari seperti itu, so disgusted! Dengan dalih uang untuk sedekah dan meringankan beban orang orang yang kurang beruntung, maka mereka sudah ditanami keyakinan untuk memilih orang orang yang seperti itu.
Manifesto politik uang dan pembodohan, rentan terhadap mereka yang secara financial mengalami kekurangan, atau pada mereka yang sudah ditanami politik balas budi, ada uang ada suara.
Haha, tertawalah. Daerah tempat gue hidup sebatang kara ini memang tidak maju dan sepertinya tidak akan pernah jika seperti ini caranya. Okelah masa bodoh, toh secara teknis gue bukan orang sini. Hanya numpang makan, hidup, eek dan segalanya (Jamrud banget dah gua).
Lewat tengah malam, kembaluilah gue ke peradaban. Meretakkan malam dengan musik dari DJ UK jebolan djarum black, kenalan temen gue (nick twitter temen gue tuh @uchacha), cari aja noh kalau mau tahu DJ nya. Masa bodoh dengan mereka yang menyuruh gue diam karena selalu menentang.