Wednesday, December 8, 2010

EKSISTENSI BORJUIS DI DUNIA PERKULIAHAN

Di dalam sebuah lingkungan perkuliahan yang baru, biasanya mahasiswa baru mulai melakukan kontak sosial untuk membentuk sebuah koneksi pergaulan baru pula di dalam dunianya yang baru. Hal ini dapat dilihat dari mulainya mereka untuk menjadi orang yang lebih open minded, friendly dan easy going daripada saat di Sekolah Menengah Atas. Hal ini menjadi sangat penting dilakukan karena selain dapat memperluas pergaulan, juga dapat menjadikan mahasiswa menjadi pribadi yang lebih peka terhadap lingkungan sosialnya karena tentu saja orang-orang baru yang mereka kenal tidak memiliki latar belakang sosial yang sama.

Pihak kampus sendiri juga menyadari pentingnya hal ini. Maka dari itu biasanya setiap awal perkuliahan diadakan masa orientasi mahasiswa baru atau OSPEK yang tujuannya selain memperkenalkan lingkungan kampus mereka yang baru, tentu saja juga bertujuan untuk menjadikan hubungan sesama mahasiswa baru di kampus itu menjadi lebih akrab. Selanjutnya, tinggal pribadi dari mahasiswa sendiri untuk menentukan apakah mereka akan menjadi orang yang tertutup dan hanya berkonsentrasi tentang perkuliahan saja, atau menjadi mahasiswa yang dapat bergaul dan aktif di lingkungan sosial yang baru.

Namun terkadang proses pembentukan sebuah sistem pergaulan baru ini dapat menjadi sebuah bentuk ketimpangan yang justru merusak sistem sosial yang sudah ada. Contohnya mengenai adanya mahasiswa–mahasiswa baru yang memandang dirinya kaum elit hanya akan berteman dengan mahasiswa yang dianggap “sederajat” dengan mereka. Dengan adanya kelompok elit baru tersebut maka paham egalitarianisme (a belief in human equality especially with respect to social, political, and economic affairs) yang mengajarkan kita akan adanya kesetaraan sosial, politik dan ekonomi hanya akan menjadi omong kosong belaka. Mahasiswa yang seharusnya dibentuk menjadi pribadi yang matang dan siap menerima tanggung jawab sosial hanya akan menjadi mahasiswa dengan moral tempe yang kerjanya hanya main ke mall, makan siang di fast food, clubbing atau hospotan di coffee shop malam harinya.

Mereka mahasiswa borjuis tidak pernah tahu (atau tidak mau tahu) tentang kehidupan mahasiswa lain yang tidak have much di kampusnya. Contohnya mengenai fenomena mahasiswa perantauan yang menjadi aktivis di kampusnya namun mengalami masalah-masalah ekonomi dan masih berjuang untuk tetap melanjutkan studinya. Masalah semacam ini tidak akan terpikirkan oleh para mahasiswa borjuis, karena yang mereka pikirkan hanya menjadi eksklusif dan tampak mewah di dalam kehidupan sosial. Mereka mahasiswa borjuis tidak merasakan bagaimana rasanya saling meminjami uang, berbagi makanan, gotong royong dan bentuk persahabatan tulus lainnya. Karena modus kelompok mereka hanyalah untuk eksistensi belaka.

Dampak lainnya mengarah pada mereka yang bukan termasuk kaum elit. Pilihannya ada dua, yaitu menjadi apatis tentang keadaan dan akhirnya terasing, atau berpura–pura menjadi golongan borjuis dan dapat bergabung dengan kelompok elit. Pilihan yang kedua dapat dimanifestasikan dengan cara untuk tidak menjadi diri sendiri. Membohongi orang lain tentang keadaan finansialnya, berpura-pura menjadi high branded person yang mengerti tentang update mode atau sesuatu yang dapat menaikkan pandangan mengenai “derajat” mereka dan yang paling parah adalah tidak menjadi diri sendiri dengan meniru gaya hidup kaum elit. Namun pernahkah terpikir pilihan ketiga? Menjadi manusia bebas yang bisa beradaptasi dan bergaul di lingkungan sosial tanpa menjadi orang lain, karena rasa-rasanya memang betul kata Soe Hok Gie bahwa “lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan”. Kemnunafikan untuk berpura-pura menjadi orang lain hanya agar diterima dalam suatu kelas sosial.



Yogyakarta, 2 Desember 2010