Menemukan jawaban dari sebuah pernyataan dimana kata-katanya tak akan bisa di pahami.
Maka nilainya akan dirasakan dengan suatu kepercayaan.
Kemudian kaki nya akan berlari karena mereka yang berjalan akan melompat, kemudian akan berhenti jika sudah waktunya sesuatu Yang Paling Tidak Bisa Dimengerti berbicara.
Karena hanya sebagian yang mengerti bahwa darahnya akan berenti untuk mengisi waktu dalam jantungnya yang berdetak.
Kemudian mereka akan duduk dengan lama dan memandang atasNya untuk mengucapkan selamat kepada diri mereka sendiri bahwa mereka masih hidup.
Monday, November 1, 2010
dan hujan pun berhenti
by Nimaz Yulianti on Friday, 15 January 2010 at 00:58
Dan ketika waktu semakin menjadi tidak untuk mengetahui kemungkinan yang nihil.
Aku telah mencoba untuk mencari fakta fakta yang penciptaannya atas dasar manipulasi.
Aku telah mencoba untuk berdiri diantara hujan yang jenuh untuk jatuh dan diharapkan untuk berhenti.
Pertanyaan apa yang akan muncul dari semuanya yang melihatku adalah pernyataan yang sedang mereka lihat padaku.
Atau mungkinkah ada yang mengetahui, karena tak ada yang akan mengetahui jika aku menangis di bawah hujan.
Atau mungkinkah ada yang mengetahui, karena tak ada satupun yang peduli dengan apa yang aku lakukan saat aku berdiri, berlari dan kemudian melompat,
sekalipun mereka tahu aku akan terjatuh seperti hujan yang turun dan terinjak oleh kaki kaki ku,
karena mereka tak peduli –dengan hujanku-.
Karena yang mereka tahu pada suatu saat hujan akan berhenti.
Kemudian apa yang kau ketahui tentang aku?
Kemudian apa yang kita lakukan di bawah hujan?
Kemudian apa yang kita saling bicarakan di bawah hujan?
Dan apakah kita saling mengetahui bahwa kita sedang menangis sekarang?
Dan apakah yang mereka pikirkan tentang kita sekarang?
Yang aku tahu kau mulai melupakan hujan yang sedang turun,
kemudian dalam hitungan waktu per detik menemukan cahaya dalam garis garis horizon yang terbaca tegas dan berarah.
Bukan seperti pemikiranku yang berupa perupaan hujan yang abstrak.
Dan dari sudut air yang pecah di antara langkah kaki,
Aku tahu arahnya semakin menjauh dari hadapanku.
Dan hujanpun berhenti ketika sesuatu sudah mulai berubah di sini.
Dan apakah yang mereka pikirkan tentang kita sekarang?
Karena yang mereka tahu hanya aku yang masih menangis.
Dan apakah kau tahu apa yang aku inginkan sekarang?
Aku ingin hujan kembali turun karena aku tak ingin mereka tahu jika aku sedang menangis.
Dan apakah mereka tahu tentang kita sekarang?
Yang aku tahu meraka tak peduli –dengan hujanku-.
Dan ketika waktu semakin menjadi tidak untuk mengetahui kemungkinan yang nihil.
Aku telah mencoba untuk mencari fakta fakta yang penciptaannya atas dasar manipulasi.
Aku telah mencoba untuk berdiri diantara hujan yang jenuh untuk jatuh dan diharapkan untuk berhenti.
Pertanyaan apa yang akan muncul dari semuanya yang melihatku adalah pernyataan yang sedang mereka lihat padaku.
Atau mungkinkah ada yang mengetahui, karena tak ada yang akan mengetahui jika aku menangis di bawah hujan.
Atau mungkinkah ada yang mengetahui, karena tak ada satupun yang peduli dengan apa yang aku lakukan saat aku berdiri, berlari dan kemudian melompat,
sekalipun mereka tahu aku akan terjatuh seperti hujan yang turun dan terinjak oleh kaki kaki ku,
karena mereka tak peduli –dengan hujanku-.
Karena yang mereka tahu pada suatu saat hujan akan berhenti.
Kemudian apa yang kau ketahui tentang aku?
Kemudian apa yang kita lakukan di bawah hujan?
Kemudian apa yang kita saling bicarakan di bawah hujan?
Dan apakah kita saling mengetahui bahwa kita sedang menangis sekarang?
Dan apakah yang mereka pikirkan tentang kita sekarang?
Yang aku tahu kau mulai melupakan hujan yang sedang turun,
kemudian dalam hitungan waktu per detik menemukan cahaya dalam garis garis horizon yang terbaca tegas dan berarah.
Bukan seperti pemikiranku yang berupa perupaan hujan yang abstrak.
Dan dari sudut air yang pecah di antara langkah kaki,
Aku tahu arahnya semakin menjauh dari hadapanku.
Dan hujanpun berhenti ketika sesuatu sudah mulai berubah di sini.
Dan apakah yang mereka pikirkan tentang kita sekarang?
Karena yang mereka tahu hanya aku yang masih menangis.
Dan apakah kau tahu apa yang aku inginkan sekarang?
Aku ingin hujan kembali turun karena aku tak ingin mereka tahu jika aku sedang menangis.
Dan apakah mereka tahu tentang kita sekarang?
Yang aku tahu meraka tak peduli –dengan hujanku-.
kebenaran
Tak ada yang lain beratas nama kebenaran di dunia ini.
Satu satunya kata benar hanya bertempa pada satu nyawa berupa perupaan hati manusia.
Apapun yang dipercaya, apapun yang dinafikan, yang tahu hanyalah kata di dalam detaknya.
Manusia itu berbohong, itu benar.
Manusia itu munafik, itu benar.
Manusia itu menyatakan kebenaran, terkadang benar.
Dulu bisa dikatakan bahwa aku percaya dengan segala hal.
Percaya akan segala fiksi ilmiah diantara koma dalam drama yang lakunya berangsur-angsur dimatikan untuk diganti dengan sebuah kebenaran tanpa kata salah.
Namun semakin lama dipelajari, fiksi fiksi itu adalah sebuah kebohongan besar.
Ya, aku merupakan manifesto dari seorang yang lari dari kenyataan.
Karena tidak sesuai dengan kenyataan untuk hidup sebagai seorang diri yang bebas.
Dunia ini penuh kebenaran yang mengatur.
Sekali lagi aku berkata tentang sesuatu yang aku tahu mengenai kebenaran.
Kenyataannya adalah tak ada hal yang benar yang bisa aku pelajari dari dunia.
Dan jangan pernah mencela apa yang aku katakan karena aku adalah benar.
Benar diantara mereka yang benar-benar lari.
Benar diantara mereka yang menganggapku salah karena aku tahu kebenaran atasku.
Aku tahu apa yang sebenarnya kuyakini, dan itu benar ada dalam hati yang tak pernah tahu akan kemunafikan karena selalu berkata atas nama kebenaran.
Lepas dari sesuatu mengenai perwujudannya, terkadang kebenaran memang menjadi kemunafikan.
Dan aku benar.
Thursday, January 28, 2010
Satu satunya kata benar hanya bertempa pada satu nyawa berupa perupaan hati manusia.
Apapun yang dipercaya, apapun yang dinafikan, yang tahu hanyalah kata di dalam detaknya.
Manusia itu berbohong, itu benar.
Manusia itu munafik, itu benar.
Manusia itu menyatakan kebenaran, terkadang benar.
Dulu bisa dikatakan bahwa aku percaya dengan segala hal.
Percaya akan segala fiksi ilmiah diantara koma dalam drama yang lakunya berangsur-angsur dimatikan untuk diganti dengan sebuah kebenaran tanpa kata salah.
Namun semakin lama dipelajari, fiksi fiksi itu adalah sebuah kebohongan besar.
Ya, aku merupakan manifesto dari seorang yang lari dari kenyataan.
Karena tidak sesuai dengan kenyataan untuk hidup sebagai seorang diri yang bebas.
Dunia ini penuh kebenaran yang mengatur.
Sekali lagi aku berkata tentang sesuatu yang aku tahu mengenai kebenaran.
Kenyataannya adalah tak ada hal yang benar yang bisa aku pelajari dari dunia.
Dan jangan pernah mencela apa yang aku katakan karena aku adalah benar.
Benar diantara mereka yang benar-benar lari.
Benar diantara mereka yang menganggapku salah karena aku tahu kebenaran atasku.
Aku tahu apa yang sebenarnya kuyakini, dan itu benar ada dalam hati yang tak pernah tahu akan kemunafikan karena selalu berkata atas nama kebenaran.
Lepas dari sesuatu mengenai perwujudannya, terkadang kebenaran memang menjadi kemunafikan.
Dan aku benar.
Thursday, January 28, 2010
SATU (sepenggal novel dari Nimaz Yulianti)
Sudah sekitar dua hari aku hanya menikmati Jepang dari satu sisi kecilnya di daerah pusat di Tokyo. Tak pernah pergi dari daerah ini, kecuali hanya melihat rumah tua yang konon ada hubungannya dengan Lafcadio Hearn, kemudian sebuah kuil Budha yang terletak di area pemakaman. Ketika berjalan melewatinya dalam keadaan udara sedingin ini, aku seperti bisa mendengar suara angin yang menerpa nisan-nisan yang membuatnya berderak bergemeretak.
mau tahu kelanjutan kisahnya?
tunggu beberapa tahun lagi akan segera terbit jika pengarangnya mau menyelesaikan.
hahahaha.
mau tahu kelanjutan kisahnya?
tunggu beberapa tahun lagi akan segera terbit jika pengarangnya mau menyelesaikan.
hahahaha.
malam, wanita di makam
Lampu lampu jalan sudah menyala,
dan aku diam,
ketika itu bisu tiba tiba berteriak tak terdengar,
berkata bahwa aku sudah kembali dan itu bukan saat ini,
ketika aku pergi keramaian yang ada dan mereka sudah bersiap merubuhkannya,
dan sampai pada suatu ketika di cerita pemakaman,
aku heran karena disini diam tanpa tangis yang ada,
disitu aku pun tak akan menangisi waktu,
karena bukan salah dari tanah dan jalanan jika waktunya telah berhenti pada suatu saat,
ketika seseorang tak bisa lagi percaya pada waktunya,
maka habislah.
Kemudian kembali pada perjalananku,
hanya ditemui beberapa hipotesa keadaan,
ketika semua sudah basah dan di malam ini yang sendirian,
spekulasi nyata terhadap seorang wanita,
dan membiarkan mereka berkata minggatlah,
untuk sesuatu yang lebih baik daripada ikan yang tak bisa berenang.
dan aku diam,
ketika itu bisu tiba tiba berteriak tak terdengar,
berkata bahwa aku sudah kembali dan itu bukan saat ini,
ketika aku pergi keramaian yang ada dan mereka sudah bersiap merubuhkannya,
dan sampai pada suatu ketika di cerita pemakaman,
aku heran karena disini diam tanpa tangis yang ada,
disitu aku pun tak akan menangisi waktu,
karena bukan salah dari tanah dan jalanan jika waktunya telah berhenti pada suatu saat,
ketika seseorang tak bisa lagi percaya pada waktunya,
maka habislah.
Kemudian kembali pada perjalananku,
hanya ditemui beberapa hipotesa keadaan,
ketika semua sudah basah dan di malam ini yang sendirian,
spekulasi nyata terhadap seorang wanita,
dan membiarkan mereka berkata minggatlah,
untuk sesuatu yang lebih baik daripada ikan yang tak bisa berenang.
YANG TAK SATU SETANPUN TAU
Jika Gie berkata tak ada setan yang tau tujuan hidupku.
Aku berkata bukankah keberuntungan adalah sebagian besar yamg diharapkan oleh manusia.
Rasa yang tidak ada menjadi ada, dan akhirnya tercipta untuk tidak ada.
Manusia, bukan dewa atau serdadu suruhan.
Mereka bisa berkata benar atas objek objek yang penuh imajinasi.
Tak ada manifesto dari perjanjian.
Tak ada balasan yang nyata antara manusia dengan manusia.
Siapa yang tahu?
Tak satu setan pun tahu.
Dan akhirnya yang tidak ada akan tetap tidak ada.
Beruntunglah kau, bukan aku yang ada.
Berpikir, tak ada yang tahu.
Satu setan pun tak ada.
Aku berkata bukankah keberuntungan adalah sebagian besar yamg diharapkan oleh manusia.
Rasa yang tidak ada menjadi ada, dan akhirnya tercipta untuk tidak ada.
Manusia, bukan dewa atau serdadu suruhan.
Mereka bisa berkata benar atas objek objek yang penuh imajinasi.
Tak ada manifesto dari perjanjian.
Tak ada balasan yang nyata antara manusia dengan manusia.
Siapa yang tahu?
Tak satu setan pun tahu.
Dan akhirnya yang tidak ada akan tetap tidak ada.
Beruntunglah kau, bukan aku yang ada.
Berpikir, tak ada yang tahu.
Satu setan pun tak ada.
MENELAN GERIMIS
by Nimaz Yulianti on Friday, 09 April 2010 at 23:08
Semua mati seperti biasa, dan ketika lagu lagu diputar, mereka ada yang memakan sedikit kotoran ditangan mereka.
Ada juga yang menyanyi lirih, sedikit berbangga atas mulutnya yang tak bisa dibuka lebar.
Dikarenakan atas berbagai alasan dan fakta, tetaplah tempat ini adalah suatu tempat untuk menggali perdebatan dan atau diam, dimana mereka akan berpisah juga akhirnya.
Ketika seorang gadis pergi, turun gerimis yang ramai berlalu.
Orang orang menyuruhnya berlari.
Tapi dia diam.
Menengadah kedua tanganya sambil melangkah di pinggiran jalanan bising ini.
Orang orang memandangnya heran.
Mungkin suatu saat akan ada yang menilai, bahwa itu adalah awal dari hilangnya kewarasan.
Hingga bising berlalu,dan jalanan kembali sepi.
Masih dia berdiri menengadah sambil menjulurkan lidahnya.
Memberi tahu Tuhan bahwa hanya DIA yang dia percaya.
Semua mati seperti biasa, dan ketika lagu lagu diputar, mereka ada yang memakan sedikit kotoran ditangan mereka.
Ada juga yang menyanyi lirih, sedikit berbangga atas mulutnya yang tak bisa dibuka lebar.
Dikarenakan atas berbagai alasan dan fakta, tetaplah tempat ini adalah suatu tempat untuk menggali perdebatan dan atau diam, dimana mereka akan berpisah juga akhirnya.
Ketika seorang gadis pergi, turun gerimis yang ramai berlalu.
Orang orang menyuruhnya berlari.
Tapi dia diam.
Menengadah kedua tanganya sambil melangkah di pinggiran jalanan bising ini.
Orang orang memandangnya heran.
Mungkin suatu saat akan ada yang menilai, bahwa itu adalah awal dari hilangnya kewarasan.
Hingga bising berlalu,dan jalanan kembali sepi.
Masih dia berdiri menengadah sambil menjulurkan lidahnya.
Memberi tahu Tuhan bahwa hanya DIA yang dia percaya.
Why don’t I have wings to fly with, like the swallow so proud and free? (complaining)
by Nimaz Yulianti on Friday, 30 April 2010 at 10:03
akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui,
itu kata Gie.
lampu-lampu berkelipan di Jogjakarta yang sepi,
bukan kota kita berdua,
itu kataku.
yang tua dan terlena dalam mimpinya.
kau dan aku berbicara.
tanpa kata, tanpa suara,
itu kata Gie.
ketika malam yang basah menyelimuti Jogjakarta yang bukan punya kita,
itu kataku.
apakah kau masih akan berkata,
kudengar derap jantungmu.
kita begitu berbeda dalam semua,
itu kata Gie.
kecuali dalam Tuhan?
itu kataku.
haripun menjadi malam,
kulihat semuanya menjadi muram.
wajah wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
seperti kabut pagi itu,
itu kata Gie.
apa kataku? aku pergi sendiri.
diantara bapak yang khawatir,
bilang padanya aku tak apa.
dan ibu yang terus berdoa,
bilang padanya aku masih ada.
aku pergi di pagi itu,
kuharap tak ada seorang pun yang tahu
tahu kebenaran yang sebenarnya ku cari,
bukan turun dari manusia.
mereka tak membantu.
mereka bukan kebenaran.
kebenaran hanya ada pada Tuhan.
kepercayaan takpantas untuk manusia,
kebaikan takpantas untuk manusia.,
pertolongan tak pantas untuk manusia, -dari manusia.
manusia bukan malaikkat,
manusia bukan dewa,
manusia bukan setan,
manusia mungkin iblis, bukan.
dunia seperti ini orang baik tak akan menang.
aku tak pernah percaya cerita tentang kebaikan,
sekalipun itu datang dari para biarawan.
aku tak percaya biarawan.
Jogjakarta bukan kota kita berdua.
disini ku bisa bicara dengan jalanan dan lampu-lampu lirih.
sekalipun rel rel yang berderit bisa diajak bicara.
aku orang tak tahu yang bertanya
kenapa kebenaran tidak diturunkan pada manusia?
kenapa semua manusia tidak sama,
seperti mereka yang bisa berbangga.
kota ini yang bukan punya kita.
aku masih bercerita
perlahan, mungkin saja aku bisa kembali,
besok senja, jika belum dipenggal.
akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui,
itu kata Gie.
lampu-lampu berkelipan di Jogjakarta yang sepi,
bukan kota kita berdua,
itu kataku.
yang tua dan terlena dalam mimpinya.
kau dan aku berbicara.
tanpa kata, tanpa suara,
itu kata Gie.
ketika malam yang basah menyelimuti Jogjakarta yang bukan punya kita,
itu kataku.
apakah kau masih akan berkata,
kudengar derap jantungmu.
kita begitu berbeda dalam semua,
itu kata Gie.
kecuali dalam Tuhan?
itu kataku.
haripun menjadi malam,
kulihat semuanya menjadi muram.
wajah wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
seperti kabut pagi itu,
itu kata Gie.
apa kataku? aku pergi sendiri.
diantara bapak yang khawatir,
bilang padanya aku tak apa.
dan ibu yang terus berdoa,
bilang padanya aku masih ada.
aku pergi di pagi itu,
kuharap tak ada seorang pun yang tahu
tahu kebenaran yang sebenarnya ku cari,
bukan turun dari manusia.
mereka tak membantu.
mereka bukan kebenaran.
kebenaran hanya ada pada Tuhan.
kepercayaan takpantas untuk manusia,
kebaikan takpantas untuk manusia.,
pertolongan tak pantas untuk manusia, -dari manusia.
manusia bukan malaikkat,
manusia bukan dewa,
manusia bukan setan,
manusia mungkin iblis, bukan.
dunia seperti ini orang baik tak akan menang.
aku tak pernah percaya cerita tentang kebaikan,
sekalipun itu datang dari para biarawan.
aku tak percaya biarawan.
Jogjakarta bukan kota kita berdua.
disini ku bisa bicara dengan jalanan dan lampu-lampu lirih.
sekalipun rel rel yang berderit bisa diajak bicara.
aku orang tak tahu yang bertanya
kenapa kebenaran tidak diturunkan pada manusia?
kenapa semua manusia tidak sama,
seperti mereka yang bisa berbangga.
kota ini yang bukan punya kita.
aku masih bercerita
perlahan, mungkin saja aku bisa kembali,
besok senja, jika belum dipenggal.
THE END OF THE PAST
by Nimaz Yulianti on Tuesday, 27 July 2010 at 22:23
Akhir Dari Masa Lalu
Seperti yang diketahui bahwa masa masa SMA sudah berakhir sekitar dua tiga bulan yang lalu. Mereka orang orang yang terpilih dan atau mereka orang orang yang beruntung telah mengambil jalan hidupnya sendiri sendiri. Kecuali mereka yang memang terseleksi dari kehidupan kehidupan yang memang tidak seramah yang dibayangkan, harus menerima jalan yang sekiranya sudah ditentukan bukan oleh mereka.
Aku tidak mengerti apa ini titik tolak dari masa depan, suatu awal dari munculnya tokoh - tokoh baru di dalam kehidupan kita masing – masing. Awal dari dibangunnya kembali sebuah harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih tinggi dari ini. Kehidupan yang lebih layak menurut pemikiran mereka yang dihidupkan hanya untuk segi ekonomi kemanusiaannya. Manifestonya adalah mereka mereka, orang orang yang pernah, sedang, masih atau akan berada dalam kehidupanku saat ini. Mereka yang diberi selamat atas awal masa depan yang baik. Mereka akan punya kehidupan yang tinggi dan mereka patut dihargai (tapi itu bukan menurutku). Tiga kali empat kali, ada orang orang yang perlu ditengok. mereka yang belum mendapatkan penghormatan. Lagi lagi hanya karena catatan awal yang belum muncul penjelasannya, hanya kata kata pengantar tentang usaha yang mereka tempuh tapi gagal, jalan jalan yang ditentukan namun tak sesuai harapan.
Tulisan ini tampak melankolis, atau mungkin perasaanku saja yang sedang melankolis. Ini bukan tentang suatu penghormatan, hanya mengenai jalan pikiran orang pada umumnya di masa masa sekarang. Yang sebetulnya sedikit sekali yang bisa diterima oleh orang orang munafik. Aku adalah orang orang munafik diantaranya, hidup dalam semua yang mereka katakan YA walau menurutku itu TIDAK.
Titik tolak masa lalu adalah belajar untuk berbicara tentang suatu kebenaran. Kebenaran bahwa bukan untuk strata terhormat yang akan dikejar untuk masa depan. Bukan materi, bukan nama dan bukan jaminan kedudukan. Aku hanya ingin hidup untuk bersenang senang, dan menurutku itu benar. Aku tahu apa yang sebagian dari kalian pikirkan, ini semua salah, dan itu benar. Suatu tugas adalah kesenangan, suatu tanggung jawab adalah kesenangan, dan suatu untuk mengatakan kebenaran atas diri sendiri adalah kesenangan. Bahkan sejarah sejarah pengkhianatan masa lalu juga merupakan kesenangan. Tapi aku bukan sejarawan yang mempelajari pengkhianatan masa lalu.
Keputusan keputusan yang diambil harus dari diri sendiri dan itu patut diperjuangkan oleh diri sendiri, untuk diri sendiri dan direlakan untuk diri sendiri dan orang lain. Apapun dalih persembahan, motifasi financial dan tuntutan tuntutan penghormatan dalam pilihan mereka adalah omong kosong. Tujuan hidup adalah apa yang ada di hati dan harus diperjuangkan untuk diri sendiri dan mereka yang memang patut dihargai. Dan semua kebenaran akan berakhir menyenangkan, apapun itu.
Akhir Dari Masa Lalu
Seperti yang diketahui bahwa masa masa SMA sudah berakhir sekitar dua tiga bulan yang lalu. Mereka orang orang yang terpilih dan atau mereka orang orang yang beruntung telah mengambil jalan hidupnya sendiri sendiri. Kecuali mereka yang memang terseleksi dari kehidupan kehidupan yang memang tidak seramah yang dibayangkan, harus menerima jalan yang sekiranya sudah ditentukan bukan oleh mereka.
Aku tidak mengerti apa ini titik tolak dari masa depan, suatu awal dari munculnya tokoh - tokoh baru di dalam kehidupan kita masing – masing. Awal dari dibangunnya kembali sebuah harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih tinggi dari ini. Kehidupan yang lebih layak menurut pemikiran mereka yang dihidupkan hanya untuk segi ekonomi kemanusiaannya. Manifestonya adalah mereka mereka, orang orang yang pernah, sedang, masih atau akan berada dalam kehidupanku saat ini. Mereka yang diberi selamat atas awal masa depan yang baik. Mereka akan punya kehidupan yang tinggi dan mereka patut dihargai (tapi itu bukan menurutku). Tiga kali empat kali, ada orang orang yang perlu ditengok. mereka yang belum mendapatkan penghormatan. Lagi lagi hanya karena catatan awal yang belum muncul penjelasannya, hanya kata kata pengantar tentang usaha yang mereka tempuh tapi gagal, jalan jalan yang ditentukan namun tak sesuai harapan.
Tulisan ini tampak melankolis, atau mungkin perasaanku saja yang sedang melankolis. Ini bukan tentang suatu penghormatan, hanya mengenai jalan pikiran orang pada umumnya di masa masa sekarang. Yang sebetulnya sedikit sekali yang bisa diterima oleh orang orang munafik. Aku adalah orang orang munafik diantaranya, hidup dalam semua yang mereka katakan YA walau menurutku itu TIDAK.
Titik tolak masa lalu adalah belajar untuk berbicara tentang suatu kebenaran. Kebenaran bahwa bukan untuk strata terhormat yang akan dikejar untuk masa depan. Bukan materi, bukan nama dan bukan jaminan kedudukan. Aku hanya ingin hidup untuk bersenang senang, dan menurutku itu benar. Aku tahu apa yang sebagian dari kalian pikirkan, ini semua salah, dan itu benar. Suatu tugas adalah kesenangan, suatu tanggung jawab adalah kesenangan, dan suatu untuk mengatakan kebenaran atas diri sendiri adalah kesenangan. Bahkan sejarah sejarah pengkhianatan masa lalu juga merupakan kesenangan. Tapi aku bukan sejarawan yang mempelajari pengkhianatan masa lalu.
Keputusan keputusan yang diambil harus dari diri sendiri dan itu patut diperjuangkan oleh diri sendiri, untuk diri sendiri dan direlakan untuk diri sendiri dan orang lain. Apapun dalih persembahan, motifasi financial dan tuntutan tuntutan penghormatan dalam pilihan mereka adalah omong kosong. Tujuan hidup adalah apa yang ada di hati dan harus diperjuangkan untuk diri sendiri dan mereka yang memang patut dihargai. Dan semua kebenaran akan berakhir menyenangkan, apapun itu.
Oedipus, Gie dan Badai Selatan
Aku hanya berkutat dengan buku mite Yunani dan Roma,
setahuku cerita hanya mengenai Oedipus,
tak seperti mereka yang terlalu religius.
Soekarno pun tahu Oedipus.
Aku hanya membaca catatan Soe Hok gie,
maka setahuku hidupku masih dalam suatu protes yang sekuler.
Aku belum membaca catatan Ahmad Wahib,
maka aku tidak tahu tentang pergolakan pemikiran Islam,
dengan demikian sekali lagi aku bukan seorang yang terlalu religius.
Itu bedanya antara aku, kau dan mereka.
Setidaknya bila seperdelapan kesimpulan mengenai kehidupanku dikutip,
aku sedikit me-Wahib kan sudut pandang atas diriku sendiri.
“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis,. Aku bukan komunis. aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim.”.
Lalu apa perbedaan kau dan mereka dengan aku?
setidaknya dalam kehidupan kehidupan yang sempit aku masih berusaha unutuk tidak munafik,
karena langit masih gelap dan badai selatan masih bergema sampai bulan desember,
maka sudahkah harapan ditelan gelombang seperri yang dikatakan badai selatan,
musnah.
seperti harapan hidupku sudah berujung pada life for nothing?
Lalu apa bedanya antara kau dan mereka dengan aku?
ini bukan kata kata puitis,
atau kau hanya tahu tentang itu karena sekalipun belum pernah tahu tentang badai selatan.
ketahuilah, itu tidak perlu dipermasalahkan.
jika memang itu bukan masalah bagi kau.
itu bedanya antara aku dan kau karena aku tidak pernah mempermasalahkan tentang mereka.
setahuku cerita hanya mengenai Oedipus,
tak seperti mereka yang terlalu religius.
Soekarno pun tahu Oedipus.
Aku hanya membaca catatan Soe Hok gie,
maka setahuku hidupku masih dalam suatu protes yang sekuler.
Aku belum membaca catatan Ahmad Wahib,
maka aku tidak tahu tentang pergolakan pemikiran Islam,
dengan demikian sekali lagi aku bukan seorang yang terlalu religius.
Itu bedanya antara aku, kau dan mereka.
Setidaknya bila seperdelapan kesimpulan mengenai kehidupanku dikutip,
aku sedikit me-Wahib kan sudut pandang atas diriku sendiri.
“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis,. Aku bukan komunis. aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim.”.
Lalu apa perbedaan kau dan mereka dengan aku?
setidaknya dalam kehidupan kehidupan yang sempit aku masih berusaha unutuk tidak munafik,
karena langit masih gelap dan badai selatan masih bergema sampai bulan desember,
maka sudahkah harapan ditelan gelombang seperri yang dikatakan badai selatan,
musnah.
seperti harapan hidupku sudah berujung pada life for nothing?
Lalu apa bedanya antara kau dan mereka dengan aku?
ini bukan kata kata puitis,
atau kau hanya tahu tentang itu karena sekalipun belum pernah tahu tentang badai selatan.
ketahuilah, itu tidak perlu dipermasalahkan.
jika memang itu bukan masalah bagi kau.
itu bedanya antara aku dan kau karena aku tidak pernah mempermasalahkan tentang mereka.
Subscribe to:
Posts (Atom)