by Nimaz Yulianti on Friday, 15 January 2010 at 00:58
Dan ketika waktu semakin menjadi tidak untuk mengetahui kemungkinan yang nihil.
Aku telah mencoba untuk mencari fakta fakta yang penciptaannya atas dasar manipulasi.
Aku telah mencoba untuk berdiri diantara hujan yang jenuh untuk jatuh dan diharapkan untuk berhenti.
Pertanyaan apa yang akan muncul dari semuanya yang melihatku adalah pernyataan yang sedang mereka lihat padaku.
Atau mungkinkah ada yang mengetahui, karena tak ada yang akan mengetahui jika aku menangis di bawah hujan.
Atau mungkinkah ada yang mengetahui, karena tak ada satupun yang peduli dengan apa yang aku lakukan saat aku berdiri, berlari dan kemudian melompat,
sekalipun mereka tahu aku akan terjatuh seperti hujan yang turun dan terinjak oleh kaki kaki ku,
karena mereka tak peduli –dengan hujanku-.
Karena yang mereka tahu pada suatu saat hujan akan berhenti.
Kemudian apa yang kau ketahui tentang aku?
Kemudian apa yang kita lakukan di bawah hujan?
Kemudian apa yang kita saling bicarakan di bawah hujan?
Dan apakah kita saling mengetahui bahwa kita sedang menangis sekarang?
Dan apakah yang mereka pikirkan tentang kita sekarang?
Yang aku tahu kau mulai melupakan hujan yang sedang turun,
kemudian dalam hitungan waktu per detik menemukan cahaya dalam garis garis horizon yang terbaca tegas dan berarah.
Bukan seperti pemikiranku yang berupa perupaan hujan yang abstrak.
Dan dari sudut air yang pecah di antara langkah kaki,
Aku tahu arahnya semakin menjauh dari hadapanku.
Dan hujanpun berhenti ketika sesuatu sudah mulai berubah di sini.
Dan apakah yang mereka pikirkan tentang kita sekarang?
Karena yang mereka tahu hanya aku yang masih menangis.
Dan apakah kau tahu apa yang aku inginkan sekarang?
Aku ingin hujan kembali turun karena aku tak ingin mereka tahu jika aku sedang menangis.
Dan apakah mereka tahu tentang kita sekarang?
Yang aku tahu meraka tak peduli –dengan hujanku-.
No comments:
Post a Comment