Monday, July 12, 2010

DIMANA JAWABAN DARI MORAL MANUSIA (POLITIK TAI KUCING DI NEGERI KOLAM SUSU)

Gue bukan orang yang mudah bersosialisasi atau mungkin lebih tepatnya enggan bersosialisasi. Karena bagaimanapun gue selalu menganggap bahwa orang orang disekeliling gue (lingkungan gue tentunya), adalah orang orang yang tidak
pernah benar. Kebenaran hanya ada di langit.
Sabtu 8 Mei 2010, gue diundang ke sebuah rapat organisasi pemuda yang sudah gak pernah gue datangi lagi, dengan berat hati gue berangkat demi alasan administrasi gue yang belum beres. Sejujurnya organisasi ini gak ada gunanya kalau boleh gue bilang, setiap orang orang di dalamnya hanya mengadakan acara berkumpul rutin, makan, merokok dan sekedar mengadakan acara arisan. Hah, arisan?
Oke, gue gak bakal bahas soal organisasi gak jelas ini. Yang gue pikir adalah mereka mulai bicara tentang proposal pengajuan dana dan politik tai kucing.
Seperti yang sudah gue bilang tadi kalau gue gak pernah berangkat, dan disitu seorang lelaki yang sepertinya gue anggap sedikit bijaksana karena latar belakang pendidikannya yang tak bisa dipandang sebelah mata mulai berbicara.

“Sehubungan dengan agenda demokrasi di daerah kita pada tanggal 9 Mei. Seperti apa yang telah kita bicarakan bulan lalu perihal organisasi kita yang mengajukan proposal dana kepada salah satu pasangan calon bupati , dimana atas kesepakatan bulan lalu jika dana tersebut diberikan maka kita akan memilih mereka dalam pemilihan kepala daerah besok. Dana yang kita ajukan sebesar Rp 2.000.0000,00 tadi sore sudah cair namun tidak sesuai dengan yang kita harapkan yaitu hanya sebesar Rp 500.000,00. Namun karena dana tersebut sudah kita dapatkan, harap dalam pemilihan bupati besok pagi saudara sekalian memilih nomor X yaitu pasangan Y dan Z, demi kemajuan daerah dan demi kemajuan organisasi pemuda kita.”

Hah, dimana harga diri kalian saudara saudara? Politik adalah hal kotor menurut gue, tapi jika sudah tak dapat dihindari maka terjunlah. Disini gue belum bicara atas nama mahasiswa yang dikenal vocal (gue belum sah menjadi mahasiswa di suatu universitas), gue hanya berbicara sebagai orang yang sok tahu tentang dunia politik.
Pernah suatu kali gue mengajukan kritik, tapi apa tanggapan mereka yang memang lebih dewasa dari gue?
Gue disuruh diam, jangan sok berbicara. Hati hati kalau berbicara atau akan dituntut jika MEREKA-YANG-BERKUASA mendengar.
Hey, siapa yang seharusnya berhati-hati? Lebih baik gue mati atas suatu kebenaran.
Kalau organisasi masyarakat sudah begini apa yang bisa diharapkan atas negeri kolam susu, apalagi ini organisasi pemuda (pemuda goblok). Bahkan politik seperti itu sudah pernah masuk sekolah. Anak anak saja sudah diajari seperti itu, so disgusted! Dengan dalih uang untuk sedekah dan meringankan beban orang orang yang kurang beruntung, maka mereka sudah ditanami keyakinan untuk memilih orang orang yang seperti itu.
Manifesto politik uang dan pembodohan, rentan terhadap mereka yang secara financial mengalami kekurangan, atau pada mereka yang sudah ditanami politik balas budi, ada uang ada suara.

Haha, tertawalah. Daerah tempat gue hidup sebatang kara ini memang tidak maju dan sepertinya tidak akan pernah jika seperti ini caranya. Okelah masa bodoh, toh secara teknis gue bukan orang sini. Hanya numpang makan, hidup, eek dan segalanya (Jamrud banget dah gua).

Lewat tengah malam, kembaluilah gue ke peradaban. Meretakkan malam dengan musik dari DJ UK jebolan djarum black, kenalan temen gue (nick twitter temen gue tuh @uchacha), cari aja noh kalau mau tahu DJ nya. Masa bodoh dengan mereka yang menyuruh gue diam karena selalu menentang.

Sunday, June 20, 2010

melankolis

gue adalah orang yang sangat suka mencela.
karena menurut gue semuanya tak ada yang benar, kebenaran hanya ada di langit. bahkan gue menganggap diri gue sendiri tidak benar sama sekali, sekalipun tidak. jadi silahkan mencela gue, karena memang salah, dan gue tercela.
lebih dari 99% yang ada di dunia adalah salah, 1% benar hanya untuk sebuah buku, itupun jika kalian tau apa yang gue pikirkan.
karena keutuhan jalan pikiran gue begitu absurd.
gue mencintai keluarga gue, lebih dari segala yang tertinggi di dunia. sebegitu cinta dan gue benci mereka sejujurnya.
keluarga adalah kasih sayang, keluarga adalah darah, keluarga adalah aturan dan keluarga adalah uang.
gue benci aturan, apapun itu gue benci aturan. aturan mengharapkan gue menjadi orang yang mempunyai status sosial, strata dan diharapkan mempunyai kasta yang lebik tinggi. dan gue tidak bisa diharapkan karena gue benci aturan yang mereka buat itu. biarkan diri gue menjadi pecundang diantara keluarga dan jika itu tanpa aturan, maka itulah gue. haha, cuma gue dan Tuhan yang benar-benar tahu tentang diri gue, bukan orang lain.
gue benci, sangat amat sangat benci dengan uang. bukankah gue seneng kalo gue dapet uang? ya, gue benci karena kesenengan gue itu jadi’in gue orang yang busuk. well well well, itulah yang terkadang gue pikirin. asal kebutuhan bulanan gue terpenuhi, gue bisa lupa dan kalap make’nya. bisa mikir, “gak apa gue gak sama keluarga gue, asal uang teteeep ngalir gitu aja ke gue. dan alasan yang kedua, strata orang diukur dengan uang. najis!
gue benci sama kedudukan. dimana mana, orang yang ber-”kedudukan” lebih tinggi akan dipandang lebih mulia. hahaha, kedudukan bukan tahta dan orangnya bukan dewa yang selalu benar. “contoh dong mereka, jadi dong kayak mereka, liat tuh mereka”. hahahaha, biarkan gue menjadi diri gue sendiri, tanpa kemuliaan apapun. karena kemuliaan hanya ada di langit.
gue benci klasifikasi. klasifikasi antara fiksi dan nonfiksi, karena semua di dunia itu fiksi. klasifikasi kasta, omong kosong itu jika di jaman sekarang sudah tidak ada. mana di antara kalian yang anaknya guru? mana di antara kalian yang anaknya tentara? mana di antara kalian yang anaknya dokter? mana di antara kalian yang anaknya anggota MPR? mana di antara kalian yang anaknya penjahit? satu-satunya klasifikasi yang benar menurut gue adalah klasifikasi biology. well well well, manusia pada animalia. hahahahaha, gue.
gue benci orang baik. hubungannya antara yang baik dan gue adalah jelas. tidak ada yang baik di belakang gue. seberapa menganggap baik nya mereka di mata lo dan seberapa lo dengan jujur berbaik hati dengan mereka, pada suatu saat suatu pernyataan memanfaatkan, pengkhianatan, pencelaan dan kebohongan akan lo terima dari mereka yang baik. hahahahaha.
gue benci kepercayaan. berapa kali pun gue berbicara atas nama Tuhan, nggak bakal ada yang percaya (emang siapa lo, apa Tuhan pantes lo bawa-bawa?). hahahaha, tidak ada yang percaya. keluarga, teman (ini istilah untuk apa, gue nggak ngerti), orang lain. itulah kepercayaan, sejak pertama gue bisa mikir. gue percaya bahwa semua orang itu baik. dan gue membenci kepercayaan gue itu. hahahahahahahahaha…..
gue benci kebencian yang pelan-pelan membunuh gue. siapa yang peduli? kematian hanya urusan gue dengan Tuhan. hanya gue dan Tuhan yang terkadang membingungkan dan menyenangkan.
gue benci akhir, karena semua kepura-pura an akan terungkap pada akhirnya. dan berakhir…